Ekstrak Rumput Laut Cokelat: Rahasia di Balik Tanaman yang Lebih Tahan Banting

Kalau kamu lagi cari tahu soal "ekstrak rumput laut" atau "alga" buat pertanian, kemungkinan besar kamu bakal sering nemuin satu nama genus tertentu: Sargassum, si alga cokelat yang jadi salah satu bahan paling banyak diteliti di dunia biostimulan tanaman.

Menariknya, Sargassum ini sebenarnya sering dianggap "masalah" di banyak pantai, terutama di kawasan Karibia, karena menumpuk dalam jumlah besar dan mengganggu ekosistem pesisir maupun pariwisata. Tapi di sisi lain, justru alga yang dianggap limbah ini punya kandungan senyawa aktif yang sangat kaya untuk mendukung pertumbuhan tanaman (NCBI, 2026).

Kenapa Alga Cokelat, Bukan Alga Jenis Lain?

Dari sekian banyak jenis rumput laut, alga cokelat seperti Ascophyllum nodosum, Ecklonia maxima, Fucus spp., dan Sargassum spp. jadi yang paling sering dipakai sebagai bahan biostimulan, karena kandungan metabolitnya yang tinggi: karbohidrat, protein, asam amino, hormon tumbuhan alami (fitohormon), karotenoid, vitamin, hingga senyawa fenolik (NCBI, 2026).

Salah satu alga cokelat paling terkenal, Ascophyllum nodosum, bahkan terbukti mampu mendorong tanaman untuk memproduksi hormon pertumbuhannya sendiri, yang berkontribusi pada pertumbuhan lebih baik, ketahanan terhadap stres, serta penyerapan dan distribusi nutrisi yang lebih optimal (NCBI, 2026).

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Ekstrak Ini pada Tanaman?

Penelitian soal Sargassum secara spesifik cukup banyak, dan hasilnya konsisten di beberapa area penting:

Ketahanan terhadap stres lingkungan. Dalam uji coba pada tanaman tomat yang mengalami stres garam, ekstrak hidroalkohol Sargassum terbukti meningkatkan kadar antioksidan enzimatik maupun non-enzimatik tanaman, membantu tomat bertahan lebih baik dalam kondisi yang seharusnya merugikan (NCBI, 2026).

Ketahanan terhadap suhu tinggi. Riset lain menunjukkan ekstrak Sargassum mampu meningkatkan toleransi tanaman tomat terhadap suhu panas, dengan perbaikan pada aspek morfologi, fisiologi, hingga ekspresi gen tanaman, bahkan meningkatkan biomassa kering tanaman hingga 6,66% di bawah kondisi stres panas (MDPI, 2025).

Ketahanan terhadap kekeringan. Pada tanaman canola, ekstrak alga cokelat Sargassum angustifolium terbukti membantu tanaman melawan efek buruk stres kekeringan dengan meningkatkan tinggi tunas, berat kering, kandungan pigmen fotosintesis, serta aktivitas antioksidan (PubMed).

Pertumbuhan dan perkecambahan. Pada tanaman kacang dan bunga matahari, ekstrak Sargassum polycystum meningkatkan berat basah tanaman hingga 18–31%, jumlah daun hingga 19–33%, dan luas daun hingga 19% dibanding tanaman kontrol (PMC, 2023).

Perlindungan dari penyakit. Aplikasi ekstrak Sargassum juga terbukti menurunkan tingkat infeksi penyakit pada tanaman tomat dengan cara mengatur aktivitas antioksidan dan hormon tanaman secara alami (Springer, 2026).

Kenapa Ini Bukan "Produk Unik Seaweed" Biasa

Banyak orang mengira semua produk berbahan rumput laut itu sama. Padahal, efektivitas ekstrak rumput laut sangat bergantung pada jenis alga, metode ekstraksi, dan dosis yang digunakan, bahkan riset menunjukkan dosis yang terlalu tinggi justru bisa berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman (PMC, 2026).

Di sinilah letak perbedaannya. Bukan sekadar "mengandung rumput laut", tapi soal jenis alga yang dipilih, cara ekstraksinya, dan bagaimana formulasinya diracik untuk benar-benar memberikan efek biostimulan yang konsisten.

Kaylix: Ekstrak Rumput Laut Tropis Asli Indonesia

Nah, ini yang bikin Kaylix beda dari sekadar "produk rumput laut" pada umumnya. Kaylix dari Zentide menggunakan ekstrak rumput laut tropis yang bersumber langsung dari perairan Indonesia, bukan rumput laut impor atau hasil daur ulang limbah alga dari negara lain.

Mengikuti prinsip yang sama seperti riset-riset Sargassum di atas, kandungan rumput laut dalam Kaylix dipadukan dengan 14 mikroba aktif, asam organik, dan fitohormon alami, menciptakan formulasi lengkap yang bekerja pada akar, penyerapan nutrisi, dan ketahanan tanaman terhadap stres lingkungan sekaligus (formulasi produk Zentide).

Jadi kalau kamu lagi cari "ekstrak rumput laut" yang bukan cuma klaim di label, tapi benar-benar dibangun di atas prinsip ilmiah yang sama dengan riset-riset global soal alga cokelat, Kaylix adalah jawabannya, diuji lewat lebih dari 150 uji coba lapangan di lebih dari 40 jenis tanaman di Indonesia (data uji lapangan internal Zentide, 2025–2026).

Hama dan Penyakit Tanaman Tomat

Tanaman tomat sudah sering disiram dan dipupuk, tetapi sering layu dan enggan berbuah? Solusinya bukan menambah pupuk, mungkin tanaman tomat anda terkena penyakit atau serangan hama. Simak jenis-jenis dan cara mengatasi hama dan penyakit tanaman tomat berikut ini. 

Layu Bakteri

Layu bakteri pada tanaman tomatLayu bakteri pada tanaman tomat

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum, bakteri ini menyebabkan tanaman kesulitan dalam menyerap air. Tanaman tomat yang terkena penyakit ini ditandai dengan layu mendadak setiap siang hari tetapi pulih kembali pada malam hari. Akar dan pangkal batang berwarna kecoklatan akibat pembusukan. Tanaman akan mati dalam waktu kurang dari 1 minggu. 

Virus Kuning

Virus Kuning pada tanaman tomatKutu Kebul

Penyakit ini disebabkan oleh Geminivirus yang ditularkan melalui kutu kebul, bukan hanya tomat tapi bisa menyerang tanaman cabai dan juga terong. Tanaman yang terkena virus ini ditandai dengan tanaman menjadi kerdil, daun muda berubah menjadi kuning, mengerut, dan menebal, dan bunga menjadi lebih mudah gugur. 

Hawar Daun

Hawar daun pada tanaman tomatHawar daun pada tanaman tomat

Hawar daun biasanya terjadi pada saat cuaca musim hujan, lembap, dan dingin. Tanaman tomat yang terkena penyakit ini biasanya ditandai dengan adanya bercak-bercak berwarna hijau kelabu yang tampak basah pada sisi daun, lapisan putih seperti serbuk di bawah daun, batang berwarna coklat kehitaman dan mudah patah, dan buah muncul bercak coklat dan keabuan

Lalat Buah

Lalat Buah

Salah satu hama yang paling merugikan tanaman tomat. Tanaman tomat tidak diserang oleh lalat dewasa tetapi larva lalat buah. Gejala dari penyakit ini adalah adanya noda hitam atau bekas tusukan pada permukaan kulit buah, buah mudah rontok, jika buah membesar, buah menjadi lebih lembek dan membusuk

Solusi Penanganan Ramah Lingkungan

Agen Pengendali Hayati

Aplikasi agen pengendali hayati berupa mikroba dapat menekan hama dan penyakit, terutama menekan cendawan yang menular pada tanah. Agen pengendali hayati yang dapat digunakan biasanya mengandung cendawan Trichoderma spp dan Gliocladium spp., atau bakteri Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens. Selain mempertahankan tanaman dari penyakit mikroba tersebut dapat meningkatkan kesehatan tanah dan menyuburkan tanaman. 

Rotasi Tanaman

Hindari penanaman tanaman yang satu famili dengan tomat secara terus menerus, contoh cabai, terong, dan kentang. Menanam tanaman tomat setelah cabai, terong, kentang ataupun sebaliknya dapat menyebabkan penyakit atau hama terus bertahan di kebun Anda. Sebaiknya, Anda dapat mengganti ke tanaman kacang-kacangan (kedelai, kacang hijau, kacang tanah) atau sayuran daun (selada, bokchoy, sawi). 

Tanaman Pendamping

MarigoldHoverfly

Menanaman tanaman pendamping seperti tanaman bunga atau tanaman aromatik, seperti mawar, marigold, kemangi, atau serai dapat menghalau hama tanaman. Tanaman tersebut memiliki aroma khas yang tidak disukai oleh hama, selain itu tanaman pendamping dapat menarik serangga musuh alami, seperti hoverfly, ladybug, tawon cotesia). Serangga musuh alami tersebut dapat memangsa hama tanaman seperti kutu daun, kutu kebul, dan ulat. 

Fungisida dan Pestisida dari Ekstrak Tanama

Anda bisa membuat fungisida atau pestisida alami dari ekstrak tanaman, seperti bawang merah, kunyit, jahe, tembakau, atau mimba. Haluskan bahan tanaman dengan blender, campurkan cairan tanaman dengan satu sendok baking soda atau sabun cair dan tambahkan 1 Liter air. Lakukan penyemprotan pada pagi hari sebelum pukul 08.00 atau pada sore hari setelah pukul 16.00, semprotkan pada seluruh bagian tanaman. 

 

Langkah efisien dalam memanfaatkan agen biologis tersebut yaitu melalui penggunaan Kaylix. Biostimulan berbahan dasar rumput laut tropis produksi Zentide ini diperkaya 14 mikroorganisme bermanfaat, di antaranya Bacillus serta Trichoderma. Kandungan ini efektif meredam patogen tular tanah dan memulihkan kesuburan lahan tanam tomat. Selain meningkatkan ketahanan dari ancaman gangguan, Kaylix turut memperkuat perakaran dan memaksimalkan penyerapan hara agar produksi buah menjadi lebih melimpah.

Mari optimalkan pemeliharaan kebun tomat Anda secara tepat dengan memenuhi kebutuhan nutrisi secara seimbang, bukan hanya sekadar memperbanyak asupan pupuk.

 

Ditulis oleh: I Gede Tirta Sukahet

Demam Kimpul: Mengapa Indonesia Mulai Melirik Kembali Pangan Lokal

Kimpul/Talas Belitung (Xanthosoma sagittifolium)

Kalau bicara soal budaya pangan Indonesia, yang langsung terbayang adalah nasi. Tidak bisa dipungkiri, nasi memang jadi makanan pokok utama, tapi perlahan ada percakapan yang mulai mengubah cara masyarakat Indonesia memandang apa yang layak ada di piring mereka.

Sorgum, singkong, sagu, talas, gembili, dan berbagai pangan lokal lainnya kini kembali mendapat sorotan seiring Indonesia mencari sistem pangan yang lebih beragam dan tahan terhadap tekanan. Seperti pahlawan tanpa tanda jasa, pangan-pangan ini sudah menghidupi Indonesia selama bergenerasi, meski dunia luar mungkin belum banyak yang mengenalnya.

Indonesia Selalu Punya Lebih dari Sekadar Nasi

Jauh sebelum diversifikasi pangan menjadi topik kebijakan, masyarakat di berbagai daerah Indonesia sudah membudidayakan dan mengonsumsi beragam pangan lokal sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sagu, misalnya, secara tradisional menjadi sumber pangan penting di Indonesia bagian timur. Sementara itu, singkong dan berbagai umbi-umbian dibudidayakan di berbagai wilayah, dan tanaman seperti sorgum telah lama identik dengan daerah pertanian yang lebih kering.

Oleh karena itu, sebenarnya tidak perlu menciptakan hal baru dari nol. Dalam banyak hal, Indonesia sedang menemukan kembali sistem pangan yang tidak berpusat pada nasi.

Mengapa Sorgum Semakin Diperhitungkan?

Sorgum menjadi salah satu tanaman paling menarik dalam percakapan diversifikasi pangan.

Salah satu alasannya adalah kemampuannya tumbuh baik di kondisi yang relatif kering. Berbagai riset menyoroti potensinya untuk pertanian lahan kering, sementara program pertanian di Indonesia saat ini terus mengembangkan budidaya dan produksi benih sorgum.

Selain itu, sorgum juga bisa diolah menjadi tepung dan produk pangan lainnya, membuka potensi di luar pasar biji-bijian tradisional. Riset telah mengeksplorasi penggunaannya untuk produk seperti mie, roti, dan kue, sementara program pemerintah juga melihat potensinya untuk pangan, pakan, dan energi.

Dengan fleksibilitas seperti itu, sorgum jadi semakin menarik seiring Indonesia mencari tanaman yang cocok dengan perubahan pasar pertanian dan pangan.

Kebangkitan Umbi-umbian Lokal Seperti Kimpul

Sorgum mungkin sedang jadi sorotan, tapi cerita diversifikasi pangan jauh lebih luas dari itu.

Singkong, sagu, talas, dan umbi-umbian lainnya juga menjadi bagian penting dari potensi pangan lokal Indonesia. Lembaga pemerintah dan riset telah mengidentifikasi beberapa sumber karbohidrat non-beras sebagai komponen penting diversifikasi pangan, termasuk singkong, jagung, sagu, pisang, kentang, dan sorgum.

Kemudian ada tanaman seperti kimpul dan gembili, yang mungkin kurang familiar bagi generasi muda, tapi sudah lama menjadi bagian dari tradisi pangan lokal.

Tantangannya bukan pada apakah tanaman-tanaman ini bisa dibudidayakan, melainkan apakah mereka bisa dibawa masuk ke sistem pangan modern dengan cara yang praktis, menarik, dan bernilai ekonomi.

Dari Pangan Tradisional ke Pangan Modern

Di sinilah inovasi pangan menjadi penting.

Pangan lokal tidak harus tetap dalam bentuk yang selama ini dikenal secara tradisional. Sorgum, misalnya, bisa diolah menjadi tepung. Singkong bisa menjadi tepung, camilan, dan berbagai produk olahan lainnya. Sementara itu, umbi-umbian bisa diubah menjadi produk yang sesuai dengan gaya hidup modern.

Peluangnya adalah mengubah pandangan terhadap pangan lokal, dari sekadar makanan musiman atau khas daerah tertentu, menjadi produk yang bisa mudah masuk ke pola makan sehari-hari. Namun, untuk mencapai itu dibutuhkan lebih dari sekadar petani. Pengolah, pelaku usaha pangan, peritel, peneliti, dan konsumen semuanya punya peran.

Apa Artinya Diversifikasi Pangan bagi Petani?

Bagi petani, diversifikasi bisa membuka peluang lain.

Semakin beragam tanaman yang ditanam, semakin besar peluang mengakses pasar berbeda dan sumber pendapatan tambahan. Selain itu, diversifikasi juga memungkinkan petani memilih tanaman yang lebih sesuai dengan kondisi tanah, air, atau iklim di lahannya.

Meski begitu, menanam tanaman baru tidak sesederhana menabur benih. Petani tetap perlu mempertimbangkan permintaan pasar, biaya produksi, kondisi tanah, ketersediaan air, nutrisi tanaman, dan penanganan pascapanen.

Dengan kata lain, sebuah tanaman baru bisa benar-benar menjadi peluang pertanian yang nyata hanya jika ada sistem yang mendukungnya.

Tanaman Lebih Baik Tetap Butuh Pengelolaan Tanah yang Baik

Baik petani menanam padi, sorgum, singkong, maupun umbi lokal, prinsip dasarnya ternyata cukup mirip.

Tanaman membutuhkan tanah yang sesuai, air, nutrisi, sinar matahari, dan perlindungan dari hama serta penyakit. Seiring petani mencoba berbagai tanaman baru, pemahaman tentang manajemen nutrisi menjadi semakin penting.

Tujuannya bukan sekadar menambah input, melainkan memberikan apa yang dibutuhkan tanaman pada waktu dan cara yang tepat. Di sinilah Kaylix dapat mendukung pendekatan yang lebih terukur terhadap nutrisi tanaman, membantu petani fokus pada efisiensi input sekaligus produktivitas.

Masa Depan Pangan Indonesia yang Lebih Beragam

Ketertarikan Indonesia terhadap pangan lokal merupakan bagian dari percakapan yang jauh lebih besar tentang ketahanan pangan.

Sistem pangan dengan lebih banyak pilihan tanaman memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menghadapi tekanan iklim, perubahan pasar, atau gangguan rantai pasok global. Riset juga menyoroti diversifikasi pangan sebagai peluang untuk memperkuat ketahanan lokal sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi produsen lokal.

Peluangnya sudah ada di depan mata. Sorgum. Singkong. Sagu. Talas. Kimpul. Gembili. Dan berbagai tanaman lain yang telah menjadi bagian dari pertanian Indonesia selama bergenerasi. Langkah selanjutnya adalah membuatnya relevan bagi generasi konsumen baru, sekaligus menguntungkan bagi petani yang membudidayakannya.

Pada akhirnya, masa depan sistem pangan Indonesia mungkin bukan soal memilih antara nasi atau yang lainnya, melainkan memberi ruang lebih besar bagi apa yang selama ini sebenarnya sudah bisa ditanam negeri ini. Dan seiring pangan-pangan lokal ini kembali mendapat sorotan, Kaylix siap hadir di lapangan, membantu petani memaksimalkan setiap hasil tanam.

Rahasia Tanah Subur Tanpa Bergantung Pupuk Kimia

Kawasan Pertanain di Sembalun, Lombok, NTB

Banyak petani dan penghobi tanaman berpikir bahwa memberikan pupuk kimia (seperti NPK) adalah satu-satunya kunci sukses panen melimpah. Namun, faktanya pupuk kimia saja tidak cukup. Pernahkah Anda merasa sudah memupuk banyak tapi tanaman tetap kerdil? Itu karena pupuk kimia hanya menyediakan nutrisi spesifik, namun tidak mampu memperbaiki sifat fisik dan kesehatan tanah. Kita sering terlalu fokus pada "makanan" tanaman, tapi lupa membangun "rumah" yang nyaman untuk mereka tumbuh.

 

Tanah Merupakan Rumah Bagi Tanaman 

Tanah bukan sekadar media tumbuh, melainkan sistem hidup yang menentukan keberhasilan tanaman sejak awal pertumbuhan. Kualitas tanah akan mempengaruhi kemampuan akar dalam menyerap air, udara, dan unsur hara yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang.

 

Menyediakan rumah bagi tanaman berarti menciptakan ekosistem tanah yang sehat. Tanaman tidak hanya butuh nutrisi, tapi juga ruang untuk bernapas.

 

Manfaat Pupuk Organik untuk Kesuburan Tanah

Menurut penelitian Walida et al. (2020), penggunaan pupuk organik sangat krusial karena:

Mengenal Biostimulan: Rahasia Tanaman Tangguh

 

Selain pupuk organik, tanaman modern membutuhkan Biostimulan. Berbeda dengan pupuk biasa, biostimulan adalah senyawa alami yang berfungsi mengaktifkan aktivitas tanaman.

 

Apa fungsi Biostimulan bagi tanaman?

  1. Efisiensi Hara: Membantu tanaman menyerap pupuk dengan lebih cepat.
  2. Ketahanan Cekaman: Membuat tanaman tetap kuat saat cuaca ekstrem (kekeringan atau hujan terus-menerus).
  3. Meningkatkan Mutu Hasil: Buah lebih berbobot dan kualitas panen meningkat.

Dengan bantuan biostimulan, tanaman Anda tidak hanya tumbuh besar, tetapi juga tumbuh tangguh terhadap serangan hama dan perubahan suhu.

Maksimalkan Hasil Panen dengan Zentide

Untuk mendukung sistem pertanian berkelanjutan, Zentide menghadirkan solusi biostimulan premium berbahan 100% ekstrak rumput laut Lombok yang mendukung kesehatan tanah, memperkuat tanaman, dan mendorong hasil panen yang lebih optimal.

 

Berpindah ke sistem budidaya yang seimbang bukan berarti meninggalkan teknologi, melainkan menyelaraskannya dengan alam. Kombinasi pupuk organik dan biostimulan adalah investasi cerdas untuk masa depan lahan Anda.

Source journal : jurnal walida